-->

Peninjauan Kembali Ditolak, Yamaha dan Honda Didenda Puluhan Miliar Karena Kartel Motor Skutik

 

Peninjauan Kembali Ditolak, Yamaha dan Honda Didenda Puluhan Miliar Karena Kartel Motor Skutik
Ilustrasi. Sumber: Pixabay

Satupiston.com – Assalamu’alaikum. Kembali lagi pada artikel kami. Babak baru mengenai kasus kartel antara Yamaha dan Honda kini mulai menemui titik terang.

 

Astra Honda Motor dan Yamaha Indonesia Motor Manufacturing pada akhirnya tetap dinyatakan bersalah karena melakukan kartel harga di segmen motor skutik.

 

Mahkamah Agung (MA) pun menolak pengajuan peninjauan kembali kasus tersebut.

 

Kasus dugaan kartel harga dari dua raksasa pabrikan motor asal Jepang yang berjaya di Indonesia ini sebenarnya sudah lama terendus.

 

Awalnya, Komisi Pengawasan Persaingan Usaha atau KPPU mencurigai adanya praktik kartel harga pada segmen motor skutik 110 cc – 125 cc di Indonesia.

 

Setelah adanya rangkaian sidang, KPPU pada 20 Februari 2017 akhirnya menyimpulkan bahwa benar telah terjadi praktik permainan harga atau kartel yang dilakukan oleh Honda dan Yamaha.

 

Sebagai hukuman, Yamaha didenda Rp. 25 miliar, sedangkan Honda dihukum Rp. 22,5 miliar.

 

Sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia yakni UU Nomor 5 tahun 1999 pasal 47 ayat 2 huruf g, pelaku kartel dapat dikenai sanksi tindakan administratif berupa pengenaan denda minimal 1 miliar hingga 25 miliar rupiah.

 

Kala itu setidaknya ada tiga barang bukti yang dijadikan rujukan sebagai tanda bahwa telah terjadi kartel antara Honda dan Yamaha.

 

Salah satunya adalah pertemuan petinggi Honda dan Yamaha  serta pesan elektrik  antara petinggi Honda dan Yamaha di  Indonesia pada April 2014 serta Januari 2015.

 

Meski tidak ada hitam di atas putih mengenai kesepakatan permainan kartel harga antara Yamaha dan Honda, namun KPPU menilai itu bukan syarat mutlak ada atau tidak adanya praktik kartel.

 

Tak puas dengan keputusan KPPU, Honda dan Yamaha pun mengajukan banding, kasasi, hingga PK atau peninjauan kembali, namun semua upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

 

Sekedar informasi, kartel sendiri secara umum adalah suatu kerja sama atau pemufakatan bersama antara pihak produsen (biasanya yang saling bersaing) untuk menetapkan harga pada tingkat yang lebih tinggi agar memberikan batasan pada suplai produk.

 

Jelas, kartel ini dapat merugikan konsumen, sebab dapat membuat harga produk jadi membumbung tinggi.

 

Praktik kartel juga dinilai tidak sehat, sebab dapat memupuk adanya praktik monopoli serta iklim persaingan bisnis yang tidak sehat.

 

Artikel ini kami cukupkan sampai di sini, akhir kata semoga bermanfaat dan sampai jumpa.

Wassalamu’alaikum.

Bagikan Artikel Ini Melalui:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Pesan Sponsor

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Karena keterbatasan tim editor, mungkin akan banyak typo di artikel ini...
x