Perbedaan Double Coil dan Single Coil pada Subwoofer Audio Mobil, Mana yang Lebih Baik?

Satupiston.com - Memilih subwoofer untuk sistem audio mobil tidak hanya berkaitan dengan ukuran speaker atau kemampuan menghasilkan suara bass, tetapi juga perlu mempertimbangkan jenis kumparan yang digunakan, termasuk single coil dan double coil.
Perbedaan single coil dan double coil pada subwoofer audio mobil menjadi salah satu hal yang perlu dipahami sebelum pemilik kendaraan memutuskan membeli perangkat audio tambahan.
Kedua jenis subwoofer tersebut memiliki karakteristik dan konfigurasi kelistrikan yang berbeda, sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan spesifikasi power amplifier.
Kesalahan dalam menentukan pilihan bukan hanya berpengaruh terhadap hasil reproduksi suara, tetapi juga berpotensi membuat sistem audio bekerja kurang optimal apabila impedansi speaker tidak sesuai dengan kemampuan amplifier.
Mengenal Single Coil pada Subwoofer Audio Mobil
Single coil atau SVC (Single Voice Coil) merupakan jenis subwoofer yang menggunakan satu kumparan suara atau voice coil untuk menggerakkan membran speaker.
Kumparan tersebut bekerja dengan menerima sinyal listrik dari power amplifier, kemudian menghasilkan medan magnet yang berinteraksi dengan magnet permanen pada subwoofer.
Interaksi tersebut membuat bagian voice coil bergerak maju dan mundur sehingga membran speaker menghasilkan getaran yang diterjemahkan menjadi gelombang suara, termasuk frekuensi rendah atau bass.
Salah satu karakteristik utama subwoofer single coil adalah memiliki satu nilai impedansi nominal, misalnya 2 ohm atau 4 ohm, sesuai spesifikasi produk.
Konstruksi yang relatif sederhana membuat jenis subwoofer ini lebih mudah dipahami ketika pengguna ingin membangun sistem audio mobil dengan konfigurasi dasar.
Pengguna juga tidak perlu memikirkan penggabungan dua kumparan karena hanya terdapat satu voice coil yang harus dihubungkan ke power amplifier.
Namun, pilihan konfigurasi impedansi pada subwoofer single coil cenderung lebih terbatas dibandingkan jenis double coil.
Sebagai contoh, subwoofer single coil 4 ohm akan memiliki impedansi nominal 4 ohm ketika dihubungkan secara langsung ke amplifier.
Artinya, pengguna perlu memastikan power amplifier mampu memberikan daya yang sesuai pada impedansi tersebut agar performa subwoofer dapat dimanfaatkan secara optimal.
Mengenal Double Coil pada Subwoofer Audio Mobil
Berbeda dengan single coil, double coil atau DVC (Dual Voice Coil) merupakan subwoofer yang memiliki dua kumparan suara dalam satu unit speaker.
Kedua kumparan tersebut berada pada satu sistem penggerak sehingga bekerja bersama untuk menghasilkan gerakan membran speaker.
Keberadaan dua voice coil memberikan keleluasaan lebih besar dalam menentukan konfigurasi sambungan listrik, terutama ketika pengguna ingin menyesuaikan impedansi subwoofer dengan kemampuan power amplifier.
Subwoofer double coil umumnya tersedia dalam beberapa pilihan impedansi, seperti 2 x 2 ohm atau 2 x 4 ohm.
Angka tersebut menunjukkan bahwa setiap kumparan memiliki impedansi nominal masing-masing sebesar 2 ohm atau 4 ohm.
Melalui pengaturan sambungan seri maupun paralel, kedua kumparan tersebut dapat menghasilkan nilai impedansi total yang berbeda.
Fleksibilitas inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa subwoofer double coil banyak dipertimbangkan dalam sistem audio mobil yang membutuhkan penyesuaian konfigurasi amplifier.
Meski demikian, pengguna perlu memahami cara penyambungan yang benar karena kesalahan menentukan konfigurasi dapat menyebabkan impedansi akhir berada di luar batas kemampuan amplifier.
Perbedaan Double Coil dan Single Coil yang Perlu Diketahui
Perbedaan paling mendasar antara single coil dan double coil terletak pada jumlah kumparan suara yang digunakan dalam satu unit subwoofer.
Single coil hanya memiliki satu kumparan, sedangkan double coil mempunyai dua kumparan yang dapat dikonfigurasi melalui sambungan seri atau paralel.
Perbedaan berikutnya terdapat pada fleksibilitas pengaturan impedansi.
Pada subwoofer single coil, nilai impedansi sudah ditentukan oleh spesifikasi kumparan yang digunakan sehingga pilihan konfigurasi kelistrikannya lebih sederhana.
Sementara itu, subwoofer double coil memungkinkan pengguna memperoleh beberapa pilihan impedansi melalui penggabungan kedua kumparan.
Dari sisi pemasangan, single coil umumnya lebih mudah dihubungkan karena hanya memiliki satu pasang terminal positif dan negatif.
Double coil mempunyai dua pasang terminal yang harus diperhatikan ketika melakukan instalasi agar sambungan sesuai dengan konfigurasi yang diinginkan.
Namun, perbedaan jumlah kumparan tersebut tidak secara otomatis menentukan kualitas suara yang dihasilkan.
Kualitas bass tetap dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti desain subwoofer, ukuran dan material membran, kemampuan motor magnet, parameter teknis speaker, ukuran box, serta pengaturan amplifier.
Cara Kerja Impedansi pada Subwoofer Double Coil
Impedansi merupakan salah satu spesifikasi penting yang perlu diperhatikan ketika memasang subwoofer pada sistem audio mobil.
Secara sederhana, impedansi menunjukkan hambatan terhadap arus bolak-balik yang diterima speaker dari amplifier dan umumnya dinyatakan dalam satuan ohm.
Pada subwoofer double coil, pengguna dapat menggabungkan dua kumparan dengan dua metode utama, yakni sambungan seri dan paralel.
Kedua metode tersebut menghasilkan nilai impedansi total yang berbeda sehingga perlu disesuaikan dengan spesifikasi power amplifier.
1. Sambungan Seri
Sambungan seri dilakukan dengan menghubungkan terminal positif salah satu kumparan ke terminal negatif kumparan lainnya.
Pada konfigurasi ini, nilai impedansi kedua kumparan akan dijumlahkan.
Sebagai contoh, subwoofer double coil 2 x 2 ohm yang disambungkan secara seri akan menghasilkan impedansi total 4 ohm.
Sementara itu, subwoofer double coil 2 x 4 ohm yang menggunakan konfigurasi serupa akan menghasilkan impedansi total 8 ohm.
2. Sambungan Paralel
Sambungan paralel dilakukan dengan menggabungkan kedua terminal positif kumparan menjadi satu dan kedua terminal negatif menjadi satu.
Konfigurasi ini menghasilkan impedansi total yang lebih rendah dibandingkan sambungan seri.
Sebagai contoh, subwoofer double coil 2 x 2 ohm yang dihubungkan secara paralel akan menghasilkan impedansi total 1 ohm.
Adapun subwoofer double coil 2 x 4 ohm yang disambungkan secara paralel akan menghasilkan impedansi total 2 ohm.
Perhitungan tersebut merupakan gambaran untuk dua kumparan dengan nilai impedansi yang sama, sehingga pengguna tetap perlu mengikuti diagram pemasangan dari produsen.
Apakah Double Coil Menghasilkan Bass Lebih Keras daripada Single Coil?
Anggapan bahwa subwoofer double coil selalu menghasilkan bass lebih keras dibandingkan single coil masih sering ditemukan di kalangan pengguna audio mobil.
Padahal, jumlah kumparan bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kekuatan suara bass.
Double coil pada dasarnya memberikan pilihan konfigurasi impedansi yang lebih fleksibel, bukan jaminan bahwa subwoofer akan menghasilkan suara lebih keras atau lebih dalam.
Kemampuan menghasilkan tekanan suara sangat dipengaruhi oleh sensitivitas speaker, daya yang diterima, desain motor penggerak, kemampuan pergerakan membran, dan karakteristik box subwoofer.
Selain itu, pengaturan crossover, gain amplifier, serta proses penyetelan sistem audio juga berperan dalam menentukan hasil akhir suara.
Subwoofer single coil dengan spesifikasi dan pemasangan yang tepat bahkan dapat memberikan performa bass yang lebih baik dibandingkan double coil yang dipasang dengan konfigurasi kurang sesuai.
Oleh karena itu, pengguna sebaiknya tidak menjadikan jumlah voice coil sebagai satu-satunya patokan ketika membandingkan kualitas subwoofer.
Mana yang Lebih Cocok untuk Audio Mobil, Double Coil atau Single Coil?
Pemilihan antara double coil dan single coil sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan sistem audio serta spesifikasi power amplifier yang digunakan.
Bagi pengguna yang menginginkan sistem audio sederhana dengan proses pemasangan relatif mudah, subwoofer single coil dapat menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.
Jenis ini cocok digunakan ketika nilai impedansi speaker sudah sesuai dengan kemampuan amplifier sehingga pengguna tidak membutuhkan banyak pilihan konfigurasi sambungan.
Sebaliknya, subwoofer double coil lebih menarik bagi pengguna yang membutuhkan fleksibilitas dalam mengatur impedansi.
Pilihan tersebut dapat membantu menyesuaikan konfigurasi subwoofer dengan kemampuan amplifier, terutama dalam sistem audio yang melibatkan beberapa speaker atau subwoofer.
Namun, fleksibilitas tersebut juga menuntut pemahaman lebih baik mengenai instalasi kelistrikan dan batas minimum impedansi amplifier.
Pengguna tidak disarankan memaksakan konfigurasi impedansi terlalu rendah hanya untuk mengejar daya keluaran amplifier yang lebih besar.
Pasalnya, impedansi yang berada di bawah batas kemampuan perangkat dapat membuat amplifier bekerja terlalu berat, mengalami panas berlebih, masuk ke mode proteksi, bahkan berpotensi mengalami kerusakan.***